Monday, September 01, 2008

Agar Hidup Menjadi Lebih Hidup

PERNAHKAH Anda merasakan atau berpikir bahwa yang Anda lakukan dengan kegiatan Anda hanya merupakan rutinitas belaka? Bangun tiap pagi kemudian melakukan aktivitas atau bertemu orang yang sama, setidak-tidaknya mirip? Membosankan atau justru menggairahkan kehidupan anda?


Tampaknya pertanyaan-pertanyaan semacam itu pasti umum dihadapi oleh kita, baik anak kecil, remaja dan dewasa. Anak-anak bangun pagi, belajar di sekolah, bermain, belajar begitu seterusnya. Mahasiswa, karyawan, dan siapapun juga memiliki rutinitas yang kurang lebih sama setiap harinya. Ada dua respon umum yang saling berseberangan. Respon yang sering kita dengar adalah kita merasa tidak bisa menikmati hidup, membosankan, jenuh, kering, tanpa semangat. Tetapi ada juga orang yang sungguh mampu menikmati rutinitas, menemukan gagasan dan semangat baru melalui rutinitas.

Rutinitas, kegiatan yang monoton (dan semacamnya) merupakan hal yang seringkali tidak mudah dihadapi banyak orang. Diperlukan sifat tertentu untuk menjalaninya. Salah satu sifat yang ditawarkan adalah ketekunan, daya tahan atau endurance (Edward, dalam Aiken, 1993). Ketekunan atau daya tahan merupakan salah satu bagian sifat manusia yang menggambarkan bagaimana kemampuan seseorang secara mental yang ditunjukkan dalam tindakan untuk bertahan dan tekun untuk menyelesaikan tugas tertentu. Ketekunan tidak selalu identik dengan melakukan aktivitas secara teratur, tetapi keteraturan dan melakukan berbagai hal secara rutin membantu untuk bertahan dalam ketekunan.

Ketika anak-anak naik kelas atau lulus ujian dengan nilai yang baik secara umum merupakan hasil dari ketekunan dan daya tahan mentalnya untuk mengatasi hal-hal yang rutin, disamping karena memang memiliki kemampuan yang umum. Mereka harus belajar teratur. Keberhasilan yang diraih seseorang tidak pernah lepas dari ketekunan mereka. Tetapi kenyataannya, tidaklah mudah untuk memiliki ketekunan. Setiap orang memiliki ketekunan /daya tahan mental yang berbeda-beda. Ketekunan / daya tahan mental inilah salah satu yang menunjukkan kualitas kepribadian seseorang.

Tantangan yang cukup berat adalah adanya kecenderungan yang serba instant yang terjadi hampir di berbagai aspek kehidupan sekarang. Misalnya saja ingin mendapatkan nilai dengan mencari bocoran soal, menggunakan joki untuk seleksi, mengejar karir atau jabatan dengan sogokan, dan korupsi. Ini semua merupakan bagian yang bersebarangan dengan sifat ketekunan yang memiliki penghargaan terhadap nilai-nilai kerja keras. Fenomena serba instan semacam itulah merupakan indikasi berkurangnya nilai-nilai kerja keras dan daya tahan untuk menyelesaikan tugas tertentu.

Pertanyaannya, bagaimana kita mencoba mengasah ketekunan? Ketekunan merupakan daya tahan mental yang tidak muncul dengan sendirinya. Ketika orang dalam kesulitan atau masalah, mungkin orang akan lebih punya keinginan untuk berusaha. Tetapi ketika sedang dalam kegembiraan, kenikmatan, kejayaan mungkin akan lebih sulit untuk sadar bahwa mereka harus tetap tekun.

Membiasakan diri untuk menghargai nilai-nilai kerja keras dalam rutinitas hidup sehari-hari merupakan hal penting untuk ketekunan. Nilai-nilai semacam itu hanya dapat dilakukan ketika diri sendiri sadar bahwa untuk mendapatkan hasil yang baik perlu kerja keras dan sadar akan tujuan dari aktivitas tersebut.

Untuk mencapai hal ini, proses pendidikan dalam keluarga, di sekolah atau di perguruan tinggi perlu memberikan perhatian dan penghargaan pada proses yang membutuhkan ketekunan dan nilai-nilai kerja keras. Jadi bukan hanya menekankan pada hasil akhir saja.

Dalam keluarga, anak diberi tanggung jawab yang tidak perlu berat, tetapi bagaimana proses keteraturan, kerja kerasnya dan daya tahannya untuk menyelesaikan tugasnya merupakan nilai yang hendak diajarkan. Dalam hal ini orang tua diharapkan tidak pelit untuk memberikan pujian ketika berhasil. Dalam konteks pendidikan, murid atau mahasiswa dapat diberikan tugas-tugas dan tanggung jawab yang memiliki nilai-nilai penghargaan terhadap ketekunan dan kerja keras.

Harapannya ketika kita melakukan berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak memandangnya sebagai sekedar melakukan rutinitas. Dengan demikian aktivitas-aktiviats tersebut akan terasa menggairahkan, memunculkan gagasan baru, dan membuat hidup menjadi lebih hidup.

P.Eddy Suhartanto, S.Psi.,M.Si, dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma
taken from www.kompas.com



0 comments:

 
© free template by Blogspot tutorial