Tuesday, April 01, 2008

Sinetron Bunuh Kreativitas dan Racuni Anak

Dikutip dari :
http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.01.24.18431770&channel=1&mn=20&idx=27


JAKARTA, KAMIS - Para orangtua mendesak Pemerintah agar peduli dengan masa depan anak-anak dan memberlakukan aturan ketat terhadap tayangan sinetron/film. Lembaga Sensor Film dan Komisi Penyiaran Indonesia yang terkesan mandul, harus diberdayakan dan ditempati oleh orang-orang cerdas dan arif bijaksana. Sebab sebagian besar sinetron tersebut membunuh kreativitas anak dan tidak mendidik.

Demikian benang merah yang dikemukakan sejumlah orangtua ketika dihubungi Kompas secara terpisah, Kamis (24/1) di Tangerang, Bekasi, Jakarta, dan Padang. "Cerita sinetron kita tidak mendidik dan tidak bermanfaat bagi kemanusiaan," kata Rozalina, Kamis (24/1) di Tangerang..

Kenyataan ia dikemukakan setelah sebuah stasiun televisi swasta, Jumat (18/1) pagi menayangkan cerita yang tidak cerdas dan mendidik. Seorang anak lelaki, Kiki, yang masih duduk di bangku sekolah dasar, meremuk-remuk buku cetaknya, karena ia tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Lalu, takut dimarahi guru, Kiki berusaha membohongi orangtuanya dengan pura-pura sakit, sehingga tidak sekolah hari itu. Ketika orangtuanya bermaksud membawanya berobat ke dokter, Kiki mengaku takut disuntik.

"Cerita sinetron tersebut sepertinya mengajarkan anak-anak kalau kesal tak bisa kerjakan PR, robek atau remuk buku. Lalu bohongi orangtua dengan pura-pura sakit. Lalu, kalau sakit tak mau berobat, karena pasti disuntik dan suntik itu sakit. Sangat tidak mendidik dan bahaya bagi anak-anak," keluh Rozalina, ibu tiga orang anak yang masih duduk di sekolah dasar di Cileduk, Kota Tangerang, Kamis (24/1).

Yang dikeluhkan Rozalina, itu baru salah satu sinetron. Masih banyak sinteron lainnya, yang menurutnya tidak perlu ditonton. Lebih baik putar VCD tentang kehidupan dunia binatang, yang menambah wawasan anak. Atau VCD lainnya yang merangsang kreativitas anak.

Keluhan senada juga diungkapkan Mukhlis, yang punya anak usia 6 tahun dan tinggal di Bekasi. Ia mengatakan sangat khawatit melihat tayangan-tayangan film/sinetron, yang mengumbar hedonisme, seolah-olah mendapatkan kehidupan mewah itu begitu mudah. Lalu, sikap anak-anak yang bicara kasar dan melawan kepada orangtua, yang harus menuruti keinginan anak. Anak mencerca ibu dianggap suatu kewajaran.

"Cerita-cerita seperti itu selalu hadir tiap hari di televisi kita, sangat tidak mendidik. Pihak televisi sepertinya lalai dengan tanggung jawab dan tak peduli dengan dampaknya yang sangat tidak mendidik itu, kecuali mengejar rating," tandasnya.

Menurut Muchlis, yang juga PNS di Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga itu, rumah-rumah produksi hanya mampu menciptakan film/sinetron yang latah-latah, menyusul tingginya rating suatu sinetron. Mestinya kreatif membuat sinetron yang ada aspek edukasi dan mengedepankan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Senada dengan itu, Wazirman warga jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan, juga menyatakan kekhawatirannya dengan film/sinetron yang, akhir-akhir ini, semakin lepas nilai. "Banyak cerita di sinetron kita yang membodohi anak-anak, sehingga tidak merangsangnya untuk kreatif dan inovatif," ujarnya.

Dihubungi secara terpisah, Asril Koto, seniman di Padang, Sumatera Barat, dan pernah main di film yang diproduksi di televisi Malaysia, mengatakan, tayangan sinetron di televisi kita semakin tidak bernilai, kecuali hiburan murahan, yang bila tidak diawasi orangtua anak-anaknya menonton untuk memberikan pengertian, tayangan itu bisa menghasut anak untuk melakukan tindakan yang menyimpang.

"Lembaga Sensor Film (LSF) dan atau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seperti mandul, tak bisa berbuat banyak untuk kemajuan perfilman dan sinetron di Indonesia. Kita mesti mempertanyakan, ada apa di balik semua ini? Kenapa membiarkan tayangan televisi menjadi racun bagi anak-anak dan remaja?" katanya.

Tentang racun itu, terungkap dari pengakuan seorang ibu bernama Lia yang tinggal di Jalan Haji Mencong, Cileduk, yang mengaku kaget ketika tiba-tiba anak perempuannya yang masih kelas dua SD, menanyakan apa seks itu. Lia kaget dan berupaya menyelidik. Lalu si anak cerita, di mobil angkutan sekolah, ada anak kelas V yang cerita dengan temannya, kalau pacaran itu pasti berciuman dan main seks.

"Saya pikir anak-anak itu sudah teracuni pikirannya dengan hal-hal yang tidak etis, melalui tontonan di sinteron. Pertanyaan anak saya tadi saya jawab sekenanya, seks itu berasal dari bahasa Inggris, yang artinya jenis kelamin. Jenis kelamin itu ada yang perempuan dan ada laki-laki," tutur ibu Lia.

Baik Rozalina, Lia, Muchlis, Wazirman, dan Asril Koto, menghimbau orangtua lainnya agar anak-anak dibatasi menonton televisi, dan kalau bisa jangan menonton sinetron. "Lebih baik belikan buku bacaan, mendongeng, atau latih anak menulis puisi, cerita anak, dan atau bawa jalan-jalan untuk belajar di alam, agar anak-anak tahu kekayaan flora dan fauna di Indonesia," jelas Rozalina.

NAL


2 comments:

seno said...

Saya juga miris kalau melihat tayangan TV di Indonesia yang hampir semuanya menayangkan sinetron yang isinya sangat tidak mendidik.

Banyak sinetron yang di dalamnya berisi tentang cerita anak sekolah, tapi yang dibahas hanya masalah pacaran saja, ditambah lagi dengan gaya berpakaian mereka yang sangat tidak mencerminkan sebagai tokoh pelajar.

Dendam, marah, sakit hati dan berbagai tema senada selalu menjadi topik sinetron. Smoga pemerintah tanggap akan hal ini dan mengambil tindakan yang tepat. Salam Pak Pri.

Prihandoko said...

dirumah kami ada aturan dilarang utk menonton sinetron. Sinetron inilah yang melemahkan kewarasan bangsa ini yang sedang berjuang mengeyangkan perut masing2. Sebuah tontonan meracuni mentalitas bangsa.

thanks for your comment mas Seno

 
© free template by Blogspot tutorial